TARIAN ACEH BARAT

Kalian tau tidak apa itu 
Tarian Ranup Lampuan?? 


Tarian ini diciptakan pada tahun 1962-an oleh panata tari Yuslizar dengan grup tari Pocut Baren dan pengasuh-pengasuhnya antara lain Ali Hayimi, Ny. AK. Abdullah, Ny. T. Ismail, Ny. Sugono, Ny. Hamid HS., dan lain-lain. Tari ini pada mulanya hanya terdapat di Banda Aceh. Akan tetapi perkembangan selanjutnya dalam waktu yang relatif singkat, telah dijumpai di daerah lain, terseniaceh daerah pesisir yang umumnya dihuni oleh suku Aceh. Tarian ini bermula dari sebuah pengalaman AK Abdullah, perwira muda militer yang bertugas di bidang Rohdam menceritakan bahwa selama bertugas diluar Aceh. Ia sering melihat tarian sirih dalam acara-acara resmi sebagai tanda penghormatan kepada tamu yang datang. Sedangkan waktu itu adat makan sirih di masyarakat provinsi dimana beliau bertugas tidaklah begitu menonjol seperti di daerah Aceh. Mendengar cerita itu, maka mencari tahu melalui para tetua adat dan menciptakan tari ranup lampuan. Setelah proses penciptaan tari selesai, Yuslizar mengundang para tokoh masyarakat, dimaksudkan agar mendapat masukan terhadap tari yang baru ia cipta.


Adapun orang-orang yang hadir di rumah Tuanku Burhan tempat diadakannya pertemuan tersebut adalah Tuanku Burhan, sebagai tuan rumah, AK Abdullah, A. Aziz Kunun suami istri, Samaun Gaharu, T. Hamzah dan istri, Mayor T. Ismail dan istri (Cut Jah Samalanga), Nyak Adam Kamil dan istri, T. Djohan, Cut Ainun Mardiah (Pocut Seulimum), T. Ismail Bitai, Ny. Hamidi, dan AD Manua. Atas kesepakatan bersama para tokoh-tokoh ini, maka disetujuilah untuk menjadikan tari tersebut sebagai tari persembahan, dan diberi nama ranub lampuan, nama diusulkan oleh Tuanku Burhan dan dipilihlah AD Manua untuk membuat iringan orkestra atau band yang selanjutnya di aransir oleh Max Sapulete. Max Sapulete juga mengubah variasi pembukaan lagu tersebut.


Tari ranup lampuan merupakan salah satu tarian tradisi Aceh yang menggambarkan estetika dan etika yang tinggi di kalangan masyarakat Aceh dalam memberikan penghormatan kepada tamu. Arti kata ranub ialah sirih, lam berarti dalam atau di dalam dan puan berarti cerana. Jadi ranub lampuan secara harfiah berarti sirih di dalam cerana. Tari ini diangkat dari adat istiadat yang hidup dan tetap terpelihara di Aceh, khususnya adat menerima dan menghormati tamu. Biasanya tamu diterima dengan penuh hormat, disuguhi sirih. Hal ini terlihat melalui simbolik gerak tari penari, perlengkapan tari dan sirih yang disuguhkan kepada tamu. Melalui gerak tari terlihat gerak yang tertib dan lembut sebagai ungkapan kehidmatan mempersilahkan para tamu duduk, dan suguhan sirih adalah lambang persaudaraan, sebagai mukaddimah dari setiap hajat dalam pergaulan hidup bermasyarakat. Tari ini ditarikan oleh 7 atau 9 penari wanita usia remaja. Sebagai pengiring tari ialah musik modern (band atau orkestra) dan dapat juga dengan musik tradisional seperti Serune kale dan Geundrang.


Tari ini berlatar belakang adat-istiadat yang hidup dan tetap terpelihara di Aceh, khususnya adat menerima dan menghormati tamu. Hal ini terlihat simbolik gerak tari penari, maupun melalui perlengkapan tari, sirih yang digunakan kepada tamu. Melalui gerak tari terlihat gerak yang tertib dan lembut sebagai ungkapan keikhlasan menerima tamu. Seperti gerak salam sembah, gerak lembut ke samping kanan kiri, dengan tangan menghayun, adalah ungkapan kehidmatan mempersilahkan para tamu duduk, dan suguhan sirih adalah perlambang persaudaraan, sebagai mukadimah dari setiap hajad dalam pergaulan hidup bermasyarakat.


Karena itu menurut jenisnya tari ini digolongkan sebagai tari adat atau upacara. Ranub lampuan dalam bahasa Aceh memiliki arti persembahan untuk yang dimuliakan. Dalam tradisi adat, tarian ranub lampuan pun dipersembahkan untuk mereka yang dimuliakan seperti pejabat kerajaan atau untuk saat ini pejabatpemerintahan atau tamu negara. Selain dipentaskan, tari ini adakalannya diadakan langsung ditempat upacara penyambutan tamu negara, seperti di lapangan terbang dan lain-lainnya.

Komentar